Ayatollah Sayyid Ali Behbahani, salah seorang ulama pada masa kontemporer, menukil sebuah kisah –melalui dua perantara– dari salah seorang murid Syekh Murtadha al-Anshari.
.
Dikisahkan,
murid tersebut pergi ke Najaf al-Asyraf untuk menyempurnakan pendidikannya dan mengikuti pelajaran Syekh Murtadha al-Anshari. Namun, setiap kali mengikuti kajian, ia sama sekali tidak mampu memahami penjelasan dan pembahasan yang disampaikan oleh sang guru.
.
Keadaan itu sangat membuatnya terpukul. Ia kemudian berusaha mencari jalan keluar dengan melakukan berbagai khatam dan wirid, berharap Allah membukakan pemahamannya. Namun, untuk beberapa waktu, semua itu belum memberikan hasil yang ia harapkan.
Akhirnya, ia bertawassul kepada Amirul Mukminin Imam Ali (as). Hingga pada suatu malam, ia bermimpi bertemu dengan beliau.
Dalam mimpi itu, Imam Ali (as) membacakan بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ke telinganya.
.
Keesokan harinya, ketika ia kembali menghadiri majelis pelajaran Syekh Murtadha al-Anshari, sesuatu yang luar biasa terjadi. Ia mulai mampu memahami pelajaran Syekh dengan sempurna. Sedikit demi sedikit, pemahamannya semakin berkembang, sampai pada suatu tahap ia bahkan mulai mampu mengajukan keberatan dan pertanyaan kritis terhadap penjelasan gurunya.
.
Pada suatu hari, setelah pelajaran selesai, ia terlibat dalam pembicaraan dan perdebatan yang cukup panjang dengan Syekh al-Anshari. Setelah majelis berakhir, Syekh mendekatinya dan membisikkan sesuatu ke telinganya:
.
آن کس که بسم الله را در گوش تو قرائت کرد، در گوش من تا والضالین را خوانده...
.
“Orang yang membacakan Bismillah ke telingamu, kepadaku telah membacakan hingga ‘wadh-dhallin’.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Syekh Murtadha al-Anshari pun pergi.
.
Ungkapan tersebut tentu memiliki makna yang sangat dalam. Seakan-akan Syekh al-Anshari mengetahui rahasia perubahan yang terjadi pada muridnya:
jika Bismillah yang dibisikkan kepada murid itu telah membuka pintu pemahaman, maka hubungan ruhani sang guru dengan Amirul Mukminin jauh lebih dalam hingga beliau mengibaratkannya sebagai bacaan yang telah sempurna dari Bismillah sampai wadh-dhallin.
.
Kisah ini menggambarkan salah satu tema yang sering muncul dalam literatur ‘irfan dan biografi para ulama:
ilmu bukan semata-mata hasil kecerdasan intelektual, tetapi juga dapat menjadi buah dari tawassul, kesucian batin, dan limpahan ilahi.
.
Sumber:
📖 Tandīs-e Zuhd — kisah tentang Syekh Murtadha al-Anshari dan salah seorang muridnya, sebagaimana dinukil dari Sayyid Ali Behbahani.
.
Credit: Malikah Nargis
.



No comments:
Post a Comment